Posted in Cuap-cuap, Inspiring Stories, My Story, Seputar Profesi Keperawatan, Tulisan Dinhie

Sekelumit Cerita tentang Praktik Profesi Keperawatan

Hola!

Sesuai dengan janji saya untuk menuliskan kisah-kisah seru dan menarik sepanjang praktik profesi yang saya pernah alami, pada kesempatan ini akan saya ceritakan sekelumit kisah yang semoga bermanfaat bagi pembaca (daripada saya di demo nanti gara-gara ga penuhi janji, seperti rakyat yang berdemo hari ini menuntut penguasa memenuhi janji manis kampanyenya..loh kok ??? :D). Oke deh..let’s start!!

Hmm…kisah ini saya alami ketika praktik profesi memasuki pertengahan gerbong maternitas . Sebagai pendahuluan, ada baiknya saya menjelaskan dulu mengenai tahap profesi keperawatan itu sendiri. Di Fakultas Ilmu Keperawatan UI tempat saya kuliah dulu, ada dua tahap perkuliahan yang harus diselesaikan jika ingin mendapat gelar Ners (Ns) dan sarjana Keperawatan (S.Kep) : tahap akademik yang berlangsung selama 4 tahun, dan tahap profesi atau praktik klinik (sama seperti istilah co ass dalam dunia kedokteran) selama 1 tahun di rumah sakit-rumah sakit pemerintah. Tahap akademik yang berlangsung selama 4 tahun sama dengan perkuliahan pada umumnya : belajar di kelas, mengerjakan tugas-tugas, bikin makalah/paper, presentasi, praktik di laboratorium, kunjungan ke rumah sakit atau panti jompo, mengerjakan riset sebagai tugas akhir, dan wisuda. Mungkin yang berbeda adalah skripsi. Jaman saya kuliah, tugas akhir berupa riset/penelitian yang dikerjakan per individu (malah kalau kakak angkatan saya, riset dikerjakan dua orang). Bedanya dengan fakultas lain, hasil riset kami tidak disidang melainkan cukup membuat poster ringkasan riset kemudian dipasang di sepanjang koridor kampus dan dinilai oleh dosen (istilah lainnya diseminasi). Mata kuliah Riset Keperawatan inipun digabung dengan beberapa mata kuliah lain pada semester 8, tidak seperti fakultas lain yang mengkhususkan skripsi pada akhir semester. Lagipula, untuk setiap semesternya mata kuliah yang kami ambil sifatnya paket (kecuali kalau ada yang mengulang atau ingin mengambil pilihan lain, sah-sah saja selama pembimbing akademik menyetujui).

Tahap akademik selesai, maka berlanjut ke tahap profesi. Sebenarnya, boleh saja tidak melanjutkan ke tahap profesi. Hanya saja, ada keterbatasan nantinya dalam bekerja, misalnya tidak boleh praktik di rumah sakit, atau menjadi dosen (meskipun ada beberapa perguruan tinggi kesehatan swasta yang mempekerjakan dosen dengan lulusan S.Kep saja). Semuanya dikembalikan kepada individu. Nah, dalam tahap profesi kami harus menyelesaikan mata kuliah (atau lebih dikenal dengan istilah gerbong) yang merupakan keperawatan pokok. Ada 8 gerbong yang harus kami lewati : keperawatan medikal bedah (KMB), keperawatan jiwa, keperawatan anak, keperawatan komunitas, keperawatan maternitas, keperawatan gerontik, keperawatan gawat darurat, dan manajemen keperawatan. Setiap gerbong mempunyai SKS dan jangka waktu berbeda namun semuanya harus selesai dalam 1 tahun.

Ok, pembahasan berlanjut mengenai maternitas. Menurut situs FIK UI, keperawatan maternitas itu berfokus pada pemahaman konsep dan teori keperawatan maternitas serta kebijakan pemerintah dalam meningkatkan kesehatan wanita pada usia subur, ibu hamil, ibu melahirkan, ibu setelah melahirkan, dan bayinya sampai usia 40 hari pada kondisi normal beserta keluarganya, misalnya: mengkaji, memantau dan mendokumentasikan aspek fisik, psikologis, sosial dan spiritual klien dan keluarga; memberikan pendidikan kesehatan tentang perawatan mandiri kepada klien dan keluarga; memberikan dukungan dan konseling psikologis untuk mamfasilitasi proses koping klien dan keluarga; mengkoordinasikan semua aspek asuhan untuk menjamin bahwa kebutuhan klien dan keluarga terpenuhi secara efektif dan efisien di rumah sakit, klinik berobat jalan atau di rumah. Selain itu keperawatan maternitas  juga berfokus pada berbagai masalah kesehatan dan komplikasi yang berkaitan dengan sistem reproduksi perempuan dan faktor-faktor yang mempengaruhi, serta asuhan keperawatan pada bayi baru lahir dengan resiko. Intinya si mempelajari kesehatan reproduksi wanita, kehamilan-melahirkan-pasca melahirkan.

Oke, back to the story. Saat itu, saya dan teman-teman satu kelompok sedang praktik di Unit Gawat Darurat Maternitas (UGDM) di salah satu rumah sakit milik pemerintah di kawasan Salemba. Praktik di UGDM dilaksanakan dalam 2 shift, pagi dan malam yang masing-masing berlangsung selama 12 jam. Kebetulan saya mendapat dinas malam. Ruangan di UGDM dibagi menjadi beberapa bagian : ruang perawatan pasca melahirkan, ruang melahirkan, ruang bayi, ruang gawat darurat, dan ruang persiapan operasi. Ada juga ruang ganti perawat, kamar mandi khusus dokter dan perawat, kamar mandi pasien, ruang rapat, dan ruang administrasi. Waktu itu saya belum memilih akan jaga di ruang yang mana, tapi saya masuk ke ruang perawatan pasca melahirkan.

Waktu menunjukkan pukul 21:00 WIB. Ada seorang pasien wanita terbaring lemah di ruang tersebut. Selang infus terpasang di tangannya. Menurut diagnosa, si ibu muda ini terkena eklampsia. Eklampsia merupakan kondisi lanjutan dari preeklampsia yang tidak teratasi dengan baik. Selain mengalami gejala preeklampsia, pada wanita yang terkena eklampsia juga sering mengalami kejang kejang. Eklampsia dapat menyebabkan koma atau bahkan kematian baik sebelum, saat atau setelah melahirkan (source : blogdokter.net)

Malam yang tenang terusik dengan keadaan si ibu muda yang memburuk. Dokter jaga langsung turun tangan dan berusaha menolong si ibu (saya sudah agak lupa gambaran detailnya, tapi saya ikut membantu sedikit). Ruang intensif dihubungi dan disiapkan, dan si ibu pun dipersiapkan pindah ruangan. Setelah semua ok, pasien pun di pindah ke ruang high care unit (HCU). Keadaan ruangan pun tenang kembali

***

Menjelang dini hari sekitar pukul 03:00 WIB, saya sengaja berkunjung ke ruang bayi untuk mengusir rasa kantuk yang menyerang. Melihat bayi-bayi imut dan menggemaskan membuat mata ini segar kembali (memang fitrah wanita ya..^^). Karena ruangan sunyi, saya dan perawat jaga senior ngobrol-ngobrol ringan (dengan suara pelan tentunya :D). Akan tetapi, tidak lama kemudian kesunyian ruang bayi terusik oleh tangisan salah seorang bayi perempuan. ‘Wah, mungkin haus,’ senior di ruangan dan saya berpikir begitu. Tapi, ketika diberikan susu dengan memakai sendok bayi itu masih tetap menangis. Ketika popoknya diperiksa (mungkin tidak nyaman karena pipis atau BAB), tapi ternyata tidak. Kemudian senior dan saya bergantian menggendong untuk menenangkan si bayi, namun tampaknya usaha kami sia-sia. Si bayi tetap menangis.

ilustrasi

Ketika waktu menunjukkan pukul 04:00 dini hari, si bayi tiba-tiba terdiam. Ya, dia diam begitu saja tanpa ada yang berusaha menenangkan. Wajah bayi itu tampak sendu, tidak ceria seperti bayi-bayi lain. Mungkin dia lelah karena menangis. Akhirnya dia tertidur dalam boksnya.

Pagi pun tiba. Ketika jam shift hampir berakhir, saya tidak sengaja mendengar pembicaraan dokter jaga mengenai ibu muda yang dipindahkan ke HCU. Ibu tersebut tidak dapat ditolong lagi dan meninggal sekitar pukul 03:30 dini hari. Saya langsung teringat dengan bayi yang terus menangis tadi malam. Apakah ibu bayi itu yang meninggal? Setelah saya cek namanya, ternyata benar. Ibu bayi yang menangis itu sudah meninggal pada jam dia menangis tanpa sebab. Sebelum pulang, saya masih menyempatkan diri menengok perempuan yang lucu itu. Saya langsung berpikir, begitu kuatnya ikatan antara ibu dan anak. Kasihan melihat si bayi..semoga ia mendapat kasih sayang yang semestinya ia dapat. Apalagi bayi itu merupakan anak pertama bagi orang tuanya.

***

Kejadian diatas benar-benar membuka mata saya akan adanya ikatan antara ibu dan anak, dan ikatan itu ternyata sangat kuat. Mungkin ada yang pernah mengalami, ketika ibu kita sakit, kita pun merasa tidak tenang atau sebaliknya. Kalau saya pribadi memang merasa seperti itu. Ada lagi cerita seperti ini : si Ibu sangat menentang anak gadisnya menjalin hubungan dengan seorang pria yang menurut si Ibu tidak baik. Entah karena dibutakan oleh cinta atau lainnya, si Anak malah kabur dan memilih pria itu. Namun diakhir kisah, si pria ternyata memang brengsek dan si Anak pun menyesali keputusannya.

Ini mungkin bentuk lain ikatan itu. Tapi bukan berarti setiap perintah Ibu dan Bapak harus kita patuhi. Kalau perintah itu mengajak pada kesesatan/maksiat tentu tidak wajib kita patuhi, “Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu-bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu. Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik, dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku, kemudian hanya kepada-Kulah kembalimu, maka Ku-beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.” (QS. Luqman: 14-15)

***

Itulah sekelumit kisah yang saya alami ketika praktik profesi. Semoga kisah diatas bermanfaat dan menginspirasi bagi yang membaca. Berbuat baiklah kepada orang tua kita selagi mereka masih ada, dan perbanyaklah bekal kita untuk menjadi orang tua teladan di masa depan. InsyaAllah kisah seru lainnya menyusul!^^

Author:

A woman who loves everything about Korean culture, try her best to be a good mother & devoted wife.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s