Posted in Cuap-cuap, Ideologi, Tentang Wanita, Tulisan Dinhie

Seputar Jilbab dan Hukum-hukumnya

Hai, hai..!

Hwaaah..sudah hari Jum’at!^^

Oke, kali ini saya mau bahas tentang jilbab dan hukumnya. Kenapa saya angkat tema ini? Pertama, karena saya wanita dan sebagai makhluk Alloh wanita pun punya kewajiban yang harus ditunaikan sebagai bentuk ketaatan kepada Sang Khaliq. Kedua, saya ingin meluruskan pemahaman yang selama ini beredar tentang definisi jilbab. Tentunya kita mau dong beribadah secara sempurna kepada Alloh dan bagaimana mencapai kesempurnaan itu haruslah punya ilmunya. Ketiga, karena ada yang menuliskan ‘hukum melepaskan kerudung’ pada kolom ‘top searches’. Hmm..saya jadi ‘gatel’ pengen ngebahas (selain banyak juga fenomena para wanita yang rela melepas kerudungnya demi apapun).

Pembahasan ini bukan keahlian saya sebetulnya, tapi insyaAlloh referensi yang saya cantumkan kekuatan dalilnya dapat dipercaya. Selamat membaca!

Kewajiban Menutup Aurat

Sebelum membahas jilbab, tentulah harus dijelaskan dulu tentang kewajiban menutup aurat karena jilbab dan aurat wanita merupakan hal yang  saling terkait satu sama lain dan tidak dapat dipisahkan.

Apakah aurat itu? Kebetulan saya menemukan blog yang membahas cukup lengkap tentang aurat ini. Untuk selengkapnya bisa dilihat di tausiyah275 dan hizbut tahrir, saya hanya akan meringkasnya saja. Secara bahasa, aurat adalah al-nuqshaan wa al-syai’ al-mustaqabbih (kekurangan dan sesuatu yang mendatangkan celaan). Diantara bentuk pecahan katanya adalah ‘awara`, yang bermakna qabiih (tercela); yakni aurat manusia dan semua yang bisa menyebabkan rasa malu. Disebut aurat, karena tercela bila terlihat (ditampakkan). Berdasarkan pengertian tadi, aurat berarti aib, malu, dan buruk sehingga wajib ditutupi.

Batasan Aurat Wanita

Karena yang menjadi fokus pembahasan adalah aurat wanita, maka saya hanya akan membahas tentang aurat wanita. Keempat Imam Besar (Syafi’i, Hanafi, Hanbali, dan Maliki) mempunyai definisi tersendiri mengenai batasan aurat pria dan wanita (selengkapnya bisa dilihat di sini) yang tertuang dalam kitab karangan beliau-beliau tersebut. Akan tetapi, terdapat kesepakatan jumhur ‘ulama mengenai aurat wanita yaitu seluruh tubuh kecuali muka dan telapak tangan. Kesepakatan ini didasarkan firman Allloh SWT dalam QS. an Nuur (24) ayat 31 “Katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak daripadanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya, kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putera-putera mereka, atau putera-putera suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita Islam, atau budak-budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. Dan janganlah mereka memukulkan kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung.”

Menurut Imam Thabariy dalam Tafsir al-Thabariy, juz 18/118, makna yang lebih tepat untuk “perhiasan yang biasa tampak” adalah muka dan telapak tangan. Keduanya bukanlah aurat, dan boleh ditampakkan di kehidupan umum. Sedangkan selain muka dan telapak tangan adalah aurat, dan tidak boleh ditampakkan kepada laki-laki asing, kecuali suami dan mahram. Penafsiran semacam ini didasarkan pada sebuah riwayat shahih; Aisyah ra telah menceritakan, bahwa Asma binti Abu Bakar masuk ke ruangan wanita dengan berpakaian tipis, maka Rasulullah saw. pun berpaling seraya berkata;

يَا أَسْمَاءُ إِنَّ الْمَرْأَةَ إِذَا بَلَغَتْ الْمَحِيضَ لَمْ تَصْلُحْ أَنْ يُرَى مِنْهَا إِلَّا هَذَا وَهَذَا وَأَشَارَ إِلَى وَجْهِهِ وَكَفَّيْهِ

Wahai Asma’ sesungguhnya perempuan itu jika telah baligh tidak pantas menampakkan tubuhnya kecuali ini dan ini, sambil menunjuk telapak tangan dan wajahnya.”[HR. Muslim]

Imam Qurthubiy Tafsir Qurthubiy, juz 12/229; Imam Al-Suyuthiy, Durr al-Mantsuur, juz 6/178-182; Zaad al-Masiir, juz 6/30-32; menyatakan, bahwa ayat di atas merupakan perintah dari Allah swt kepada wanita Mukminat agar tidak menampakkan perhiasannya kepada para laki-laki penglihat, kecuali hal-hal yang dikecualikan bagi para laki-laki penglihat. Selanjutnya, Allah swt mengecualikan perhiasan-perhiasan yang boleh dilihat oleh laki-laki penglihat, pada frase selanjutnya. Hanya saja, para ulama berbeda pendapat mengenai batasan perhiasan yang boleh ditampakkan oleh wanita. Ibnu Mas’ud mengatakan, bahwa maksud frase “illa ma dzahara minha” adalah dzaahir al-ziinah” (perhiasan dzahir), yakni baju. Sedangkan menurut Ibnu Jabir adalah baju dan wajah. Sa’id bin Jabiir, ‘Atha’ dan Auza’iy berpendapat; muka, kedua telapak tangan, dan baju.

Menurut Imam al-Nasafiy, yang dimaksud dengan “al-ziinah” (perhiasan) adalah semua yang digunakan oleh wanita untuk berhias, misalnya, cincin, kalung, gelang, dan sebagainya. Sedangkan yang dimaksud dengan “al-ziinah” (perhiasan) di sini adalah “mawaadli’ al-ziinah” (tempat menaruh perhiasan). Artinya, maksud dari ayat di atas adalah “janganlah kalian menampakkan anggota tubuh yang biasa digunakan untuk menaruh perhiasan, kecuali yang biasa tampak; yakni muka, kedua telapak tangan, dan dua mata kaki”. Dari pendapat para ulama tafsir tadi, maka jelas bahwa aurat wanita adalah seluruh tubuh kecuali muka dan telapak tangan.

Bagaimana menutup aurat yang sempurna?

Setelah pembahasan mengenai aurat maka selanjutnya adalah ‘bagaimana agar aurat tertutup sempurna?’. Maka disinilah pembahasan jilbab dimulai. Syarat pakaian yang sempurna menutup aurat adalah tidak transparan, tidak tipis sehingga tidak memperlihatkan warna kulit.

Perintah memakai jilbab dan kerudung

Lantas pakaian yang seperti apa yang diperintahkan untuk menutup aurat? Al Qur’an telah memerintahkan wanita untuk memakai jilbab dan kerudung (khimar) ketika keluar rumah. Apa bedanya jilbab dan kerudung? Istilah ini sering disamakan, padahal maknanya berbeda sama sekali. Oke, pembahasan pertama adalah tentang jilbab. Perintah memakai jilbab terdapat dalam QS. al Ahzab ayat 59 “Hai Nabi katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mu’min: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka”. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah adalah Maha pengampun lagi Maha penyayang”.

Ayat ini merupakan perintah yang sangat jelas kepada wanita-wanita Mukminat untuk mengenakan jilbab. Adapun yang dimaksud dengan jilbab adalah milhafah (baju kurung) dan mula’ah (kain panjang yang tidak berjahit). Di dalam kamus al-Muhith dinyatakan, bahwa jilbab itu seperti sirdaab (terowongan) atau sinmaar (lorong), yakni baju atau pakaian longgar bagi wanita selain baju kurung atau kain apa saja yang dapat menutup pakaian kesehariannya seperti halnya baju kurung.”[Kamus al-Muhith]. Sedangkan dalam kamus al-Shahhah, al-Jauhari mengatakan, “jilbab adalah kain panjang dan longgar (milhafah) yang sering disebut dengan mula’ah (baju kurung).”[Kamus al-Shahhah, al-Jauhariy]

Di dalam kamus Lisaan al-’Arab dituturkan; al-jilbab ; al-qamish (baju); wa al-jilbaab tsaub awsaa’ min al-khimaar duuna ridaa’ tughthi bihi al-mar`ah ra’sahaa wa shadrahaa (baju yang lebih luas daripada khimar, namun berbeda dengan ridaa’, yang dikenakan wanita untuk menutupi kepala dan dadanya.” Ada pula yang mengatakan al-jilbaab: tsaub al-waasi’ duuna milhafah talbasuhaa al-mar`ah (pakaian luas yang berbeda dengan baju kurung, yang dikenakan wanita). Ada pula yang menyatakan; al-jilbaab : al-milhafah (baju kurung). Berdasarkan pembahasan diatas, maka dapat disimpulkan bahwa jilbab adalah baju terusan panjang yang luas (seperti daster), digunakan oleh wanita untuk menutupi pakaian rumahnya (ats tsaub) dan digunakan ketika berada di luar rumah.

Sedangkan untuk memakai kerudung, Alloh SWT telah memerintahkannya dalam QS an Nuur : 31

وَلْيَضْرِبْنَ بِخُمُرِهِنَّ عَلَى جُيُوبِهِنَّ

“Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dadanya..”

Kerudung adalah kain yang dipakai untuk menutupi kepala namun tidak cukup hanya dengan menutupkan jilbab pada kepala saja dan ujungnya diikatkan ke belakang. Tapi ujung jilbab tersebut harus dibiarkan terjuntai menutupi dada. Begitulah tafsir dari ayat ini.

Bentuk Jilbab dan Kerudung

gambar jilbab dan kerudung

Inilah bentuk pakaian wanita yang diwajibkan oleh Islam.

Gambar ini dan penjelasan lengkapnya dapat dilihat di sini

Bagaimana dengan wanita yang membuka auratnya?

Ketika sudah sampai perintah memakai jilbab dan kerudung, kaum muslimah serta merta langsung merobek kain gorden mereka dan menutupi kepala dan tubuh mereka dengan kain itu. Begitulah seharusnya sikap seorang muslimah yang menerima kebenaran : bersegera melaksanakan perintah Alloh swt. Keadaan muslimah di negeri ini sungguh ironi. Negeri yang katanya berpenduduk muslim terbesar, aurat wanita kok malah bertebaran dimana-mana. Imam Muslim menuturkan sebuah riwayat, bahwasanya Rasulullah saw bersabda “Ada dua golongan manusia yang menjadi penghuni neraka, yang sebelumnya aku tidak pernah melihatnya; yakni, sekelompok orang yang memiliki cambuk seperti ekor sapi yang digunakan untuk menyakiti umat manusia; dan wanita yang membuka auratnya dan berpakaian tipis merangsang berlenggak-lenggok dan berlagak, kepalanya digelung seperti punuk onta. Mereka tidak akan dapat masuk surga dan mencium baunya. Padahal, bau surga dapat tercium dari jarak sekian-sekian.”[HR. Imam Muslim].

Imam Ahmad juga meriwayatkan sebuah hadits dari Abu Hurairah dengan redaksi berbeda.

صِنْفَانِ مِنْ أَهْلِ النَّارِ لَا أَرَاهُمَا بَعْدُ نِسَاءٌ كَاسِيَاتٌ عَارِيَاتٌ مَائِلَاتٌ مُمِيلَاتٌ عَلَى رُءُوسِهِنَّ مِثْلُ أَسْنِمَةِ الْبُخْتِ الْمَائِلَةِ لَا يَرَيْنَ الْجَنَّةَ وَلَا يَجِدْنَ رِيحَهَا وَرِجَالٌ مَعَهُمْ أَسْوَاطٌ كَأَذْنَابِ الْبَقَرِ يَضْرِبُونَ بِهَا النَّاسَ

Ada dua golongan penghuni neraka, yang aku tidak pernah melihat keduanya sebelumnya. Wanita-wanita yang telanjang, berpakaian tipis, dan berlenggak-lenggok, dan kepalanya digelung seperti punuk onta. Mereka tidak akan masuk surga, dan mencium baunya. Dan laki-laki yang memiliki cambuk seperti ekor sapi yang digunakan untuk menyakiti umat manusia “[HR. Imam Ahmad]

Hadits-hadits di atas merupakan ancaman yang sangat keras bagi wanita yang menampakkan sebagian atau keseluruhan auratnya, berbusana tipis, dan berlenggak-lenggok.

Nah, berdasarkan penjelasan diatas maka sudah jelas bahwa wanita wajib menutup auratnya bagaimanapun keadaannya dan alasannya. Lalu bagaimana dengan alasan pekerjaan? Hmm,,,untuk pembahasan ini banyak mengaitkan berbagai aspek. Tapi untuk pembahasan singkatnya seperti ini :

Dalam Islam, wanita tidak diwajibkan bekerja karena tugas utamanya adalah mengurus rumah tangga dan mendidik anak (dan pembahasan inipun masih sangat luas). Jika belum menikah, maka sebelum bekerja wanita harus minta izin terlebih dulu kepada walinya dan ketika sudah menikah, harus dengan persetujuan suami. Pekerjaan yang dilakukan haruslah pekerjaan halal yang tidak mengarah pada kemaksiatan dan kekufuran.

Lantas mengapa saat ini banyak perempuan bekerja? Mungkin sebagian besar perempuan akan menjawab ‘sebagai sarana aktualisasi diri’. Jika ditilik lebih lanjut, jawaban seperti ini tidak lain karena dahsyatnya opini yang berkembang dikalangan masyarakat umum mengenai kesetaraan gender yang menginginkan persamaan derajat antara perempuan dan laki-laki dalam segala hal (lagi-lagi ini membutuhkan pembahasan lebih lanjut).

Selain sarana aktualisasi diri, alasan perempuan bekerja adalah karena kebutuhan ekonomi yang semakin mendesak dimana penghasilan suami tidak lagi cukup untuk memenuhi semua kebutuhan hidup. Untuk alasan ini, bekerja diperobolehkan asal mendapat izin dari suami dan pekerjaannya halal dan tidak menyita waktu sehingga keluarga terbengkalai. Lantas bagaimana dengan janda yang harus menghidupi keluarganya? Jika janda tersebut masih mempunyai ayah, maka ayahnya lah yang wajib menafkahi. Jika sudah tidak punya ayah, maka wali janda tersebut yang dikenai kewajiban menafkahi. Dan jika memang janda tersebut tidak punya satu pun sanak saudara, maka disinilah peran negara memperhatikan kebutuhan hidup warga negaranya. Begitu sempurnanya Islam mengatur masalah kewajiban ini. Namun, apa yang terjadi saat ini ketika Islam tidak diterapkan sebagai pengatur kehidupan? Kemiskinan yang menjerat dijadikan alasan bekerja meskipun tahu bahwa pekerjaan itu tidak halal.

Berdasarkan hal diatas, maka jika Anda sebagai muslimah harus berkorban melepas kerudung demi pekerjaan berarti sama saja dengan melalaikan kewajiban demi sesuatu yang hukumnya mubah (boleh). Padahal, sesuatu yang wajib tidak perlu dikompromikan karena sudah jelas perintahnya dan hukuman akibat melalaikannya. Ada tulisan yang menarik seputar sikap hidup muslimah. Untuk lebih lengkapnya bisa dibaca di sini

Wallahu’alam

Author:

A woman who loves everything about Korean culture, try her best to be a good mother & devoted wife.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s